Tatkala masih dibangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar doa ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang.
Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang. Aku sungguh heran, bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri:
"Alangkah sabarnya mereka ... setiap hari begitu ... benar-benar mengherankan! "
Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin dan itulah shalat orang-orang pilihan. Mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk bermunajat kepada Allah.
Tatkala masih dibangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar doa ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang.
Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang. Aku sungguh heran, bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri:
"Alangkah sabarnya mereka ... setiap hari begitu ... benar-benar mengherankan! "
Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin dan itulah shalat orang-orang pilihan. Mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk bermunajat kepada Allah.
Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah padahal berbagai nasehat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu. Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan di kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.
Disana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur'an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati. Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi. Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak.
Aku bingung dan sering melamun sendirian... banyak waktu luang... pengetahuanku terbatas. Aku mulai jenuh... tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas.
Sampai suatu hari terjadilah sebuah peristiwa yang hingga kini tak pernah kulupakan. Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas disebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol... tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengedarkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban.
Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah. Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat.
Ucapkanlah "Laailaaha Illallaah ... Laailaaha Illallaah .." perintah temanku.
Tetapi sungguh mengerikan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding. Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat... Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat. Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar.
Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi... keduanya tetap terus saja melantunkan lagu. Tak ada gunanya...
Suara lagunya terdengar semakin melemah... lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak... keduanya telah meninggal dunia.
Kami segera membawa mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatahpun. Selama perjalanan hanya ada kebisuan. Hening...
Kesunyian pecah ketika temanku mulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su'ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata "Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk.. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia."
Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.
Perjalanan kerumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat.
Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat khusyu' sekali.
Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu. Aku kembali pada kebiasaanku semula... Aku seperti tak pernah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu yang lalu.
Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pernah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu.
Kejadian yang menakjubkan. .. Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu.... sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku.
Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota. Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri dibelakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itupun langsung tersungkur seketika.
Aku dengan seorang kawan, bukan yang menemaniku pada peristiwa pertama cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat penanganan.
Dia masih sangat muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang taat menjalankan perintah agama. Wajahnya begitu bersih - mungkin karena sering tersiram air wudhlu. Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.
Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an... dengan suara amat lemah.
"Subhanallah! dalam kondisi kritis seperti itu ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an? Darah mengguyur seluruh pakaiannya, tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati. Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan suaranya yang merdu.
Selama hidup, aku tak pernah mendengar bacaan Al-Qur'an seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian "Aku akan menuntunya membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu... apalagi aku sudah punya pengalaman." aku meyakinkan diriku sendiri.
Aku dan kawanku seperti terhipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur'an yang merdu itu. Sekonyong-konyong sekujur tubuhku merinding, menjalar dan menyelusup ke setiap rongga. Tiba-tiba, suara itu terhenti. Aku menoleh kebelakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat.
Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Kupegang tangannya, degup jantungnya, nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal. Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah meninggal. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan.
Sampai di rumah sakit..... Kepada orang-orang di sana, kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya. Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah. Semua ingin ikut menyolatinya.
Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantar jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan, ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari senin.Di sana almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika terjadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang ia santuni. Bahkan ia juga membawa permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil.
(sumber: undercover_id)
Bila tiba saatnya kelak, kita menghadap Allah Yang Perkasa. Hanya ada satu harap, semoga kita menjadi penghuni surga. Biarlah dunia jadi kenangan, juga langkah-langkah kaki yang terseok, di sela dosa dan pertaubatan. Hari ini, semoga masih ada usia, untuk mengejar surga itu, dengan amal-amal yang nyata: memperbaiki diri dan mengajak orang lain... "Rasulullah telah mengingatkan, "Barangsiapa yang lambat amalnya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya."
Selasa, 25 September 2007
Senin, 24 September 2007
Untitled
Aku memang bukan mentari, tapi aku akan hangatkanmu
Aku memang bukan rembulan, tapi aku akan terangi gelap malammu
Aku memang bukan mawar, tapi aku akan harumkanmu
Aku hanya seorang manusia biasa, yang memiliki cinta tulus di hati
Selama nafas berhembus, aku kan berusaha menjadi yang terbaek bagimu
Selama aku bernyawa, aku kan berusaha menjadi yang terbaek untukmu
Bukan malaikat yang kuinginkan
Hanya seorang manusia yang penuh dengan kekurangan dan kelebihan
For someone at somewhere who expert in VB.net
Aku memang bukan rembulan, tapi aku akan terangi gelap malammu
Aku memang bukan mawar, tapi aku akan harumkanmu
Aku hanya seorang manusia biasa, yang memiliki cinta tulus di hati
Selama nafas berhembus, aku kan berusaha menjadi yang terbaek bagimu
Selama aku bernyawa, aku kan berusaha menjadi yang terbaek untukmu
Bukan malaikat yang kuinginkan
Hanya seorang manusia yang penuh dengan kekurangan dan kelebihan
For someone at somewhere who expert in VB.net
Cinta Terindah
“Maaf Dek, aku nggak bisa nerima kamu…” suasana seakan mati, hanya terdengar desah angin sepoi yang membelai rambutku.
“Door! Hayo, melamun ya. Siang – siang jangan melamun, nanti kesambet loh.” suara Shinta membuyarkan lamunanku.
“Maaf Dek, aku nggak bisa nerima kamu…” suasana seakan mati, hanya terdengar desah angin sepoi yang membelai rambutku.
“Door! Hayo, melamun ya. Siang – siang jangan melamun, nanti kesambet loh.” suara Shinta membuyarkan lamunanku.
“Raha ke kantin yuk, lapar nih. Kamu sih melamun terus kerjaannya dari tadi, kan lebih baik ke kantin, hehehehe.” kata Shinta sambil tertawa.
Shinta adalah sahabatku, mulai dari kelas 1 SMA hingga kini kelas 3 SMA kami selalu sekelas.
“Ayo deh!” jawabku singkat sambil berdiri dengan malas.
“Raha, kamu kok akhir – akhir ini jadi sering melamun sih. Ada apa? Lagi ada masalah ya. Cerita donk ke aku. Aku kan sahabat kamu,” kata Shinta sambil memakan bakso pesanannya.
“Nggak ada apa – apa kok,” kataku.
“Eh ayo cepet habiskan bakso kamu. Tuh Pak Aksa sudah masuk kelas.”
Semalam, lagi – lagi aku teringat kembali padanya dan juga peristiwa malam itu. Aku kembali teringat pada seorang pemuda yang membuat hidupku menjadi lebih berwarna daripada sebelumnya. Membuat pelangi terlihat lebih indah dan membuat kicau burung terdengar lebih merdu. Ya, aku adalah seorang gay. Aku menyadari perbedaan dalam diriku ini ketika aku menginjak masa puber.
Bukannya aku menyombongkan diriku, tetapi prestasiku sejak dulu selalu terbaik, dan lagi wajahku juga lebih dari pas – pasan. Tak heran semua cewek mengagumiku dan menjulukiku Sang Cowok impian. Namun aku tidak merespon semua perkataan teman cewekku, tetapi ketika seorang lelaki menjuluki aku cowok impian, entah kenapa darahku berdesir dibuatnya. Dan lagi ketika seorang lelaki tampan lewat di depanku, hatiku selalu berdetak kencang. Kecuali Shinta, tak ada yang tahu akan perbedaanku ini. Bahkan orang tuaku sekalipun. Shinta kuberitahu karena dia adalah sahabat terbaikku.
Pemuda yang membangunkan cintaku ini bernama Andra. Dia berumur 22 tahun, seorang pegawai swasta di kotaku. Aku diperkenalkan dengan Andra oleh temanku yang sama – sama gay. Andra merupakan orang yang baik, dia juga enak untuk diajak ngobrol. Dan juga mudah beradaptasi denga orang yang baru dikenalnya. Aku yang selama ini canggung ketika berbicara dengan orang asing, meskipun dia gay, sama sepertiku tetapi saat bertemu dengan Andra aku langsung merasa nyaman untuk mengobrol dengannya. Dan aku langsung jatuh hati kepadanya.
Pertemanan kami terus berlanjut. Entah mengapa ketika bersamanya aku seakan –akan menemukan kebahagiaan yang selama ini hilang dalam hidupku. Ketika senja tiba, kuingin cepat menggantikan rembulan dengan matahari jika kubisa. Hari demi hari dia tak luput dari pikiranku, walaupun dia sibuk dengan pekerjaannya tapi dia selalu menghubungiku meskipun hanya via sms dan itu sudah cukup mengobati rasa rinduku.
Hinga suatu malam aku menelponnya, “halo, Mas hari ini kamu ada acara nggak ? aku ke rumahmu ya.”
“Nggak kok Dek, kalo mau maen silakan aja. Kalo gitu kamu aku tunggu di rumah jam 7 yah, Ok!”
“Ok Mas!”
Jam 7 aku sudah berada di depan rumah Andra. Kulihat dia sedang duduk di teras rumah sambil membaca sebuah majalah.
“Hai Mas, sedang apa?”
”Baca majalah bisnis Dek, masuk yuk”
“Makasih Mas,” jawabku sambil masuk ke rumahnya yang lumayan besar.
“Gimana sekolah kamu Dek? Nggak ada masalah kan?” kata Andra membuka percakapan.
“Nggak kok mas, sekolah ya tetep disitu nggak pindah tuh.,” jawabku sambil tersenyum.
Kemudian kami bercerita panjang lebar tentang apapun, mulai masalah pekerjaannya sampai mengenai keluargaku dan keluarganya. Kemudian aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya yang selama ini selalu kupendam.
“Mmmm. Mas aku boleh ngomong sesuatu nggak? Tapi janji jangan marah ya!” rasa ragu menyelimuti hatiku, tapi daya dorong ini semakin kuat.
“Tergantung sih,” senyuman di bibirnya membuatku terpaku memandangnya.
“Bicara aja Dek, Mas nggak bakalan marah kok”
“Mas, mungkin lucu Aku bicara hal ini di saat yang seperti ini. Tapi aku sudah memendamnya lama dan aku sudah tidak kuat lagi untuk membendungnya,” kuberanikan diriku untuk memulainya.
“Mas, A... aku jatuh cinta sama seseorang.”
“Oh ya? Sama siapa Dek? Aku kenal nggak sama dia?” kata Andra dengan antusias.
“Di…dia adalah Mas sendiri. Aku suka sama mas Andra,” akhirnya keluar juga kata – kata itu.
“Mas, puisi ini adalah ungkapan perasaan cintaku padamu,” sambil kusodorkan sepucuk surat yang berisi puisi ungkapan perasaan cintaku kepadanya.
Perlahan dibukanya surat itu dan mulai membacanya.
Saat kupejamkan mata
Terbayang wajah indahmu
Saat kubuka mata ini
Terngiang namamu
Rasa inikah
Yang menampar jiwa Qais akan Laila
Mengoyak hati Romeo akan juliet
dan mencabik hati Yusuf akan Zulaikha
Rasa ini
Menyiksa batinku
Rasa ini menekan, mendesak
Menyesakkan jiwa
Ingin kuberteriak
Ingin kulari
‘tuk temuimu
Dan katakan
Kau lelaki terindah dalam hidupku
Tak peduliku tatapan tajam dunia
Tak peduliku pandangan liar mereka
Lama kami terdiam, tapi kemudian Andra mulai bicara.
“Dek aku mengerti perasaan kamu. Tapi aku sudah menganggap kamu sebagai adikku yang selama ini kucari. Jadi nggak mungkin aku menerima kamu sebagai pacarku. Aku nggak mau kehilanganmu Dek, sebab di dalam pacaran ketika rasa cinta itu pudar maka kebencianlah yang berperan dan aku nggak mau hal itu terjadi pada hubungan kita Dek. Jadi aku mohon, jadilah adikku bukan pacarku. Maafkan aku Dek, kamu bisa mengerti perasaanku kan?” penjelasan itu diakhiri dengan senyuman manisnya. Kuberanikan diri menatap wajahnya meskipun jeritan dan tangisan hati silih berganti.
“Ya sudah kalo itu memang keputusan Mas, aku akan coba untuk menerimanya. Aku akan coba untuk menjadi adik terbaik di dunia buat kamu mas,” kupaksakan bibir ini untuk tersenyum.
“Mas sudah malam nih, aku pulang dulu ya. Nanti mama nyariin aku lagi. Kan kasian beliau kalo anaknya yang paling cakep ini diculik orang,” aku berusaha menghibur diriku sendiri dengan bergurau dengannya.
“Ye, sok kegantengan deh,” ledeknya.
“Ya sudah, hati – hati ya. Besok kamu sekolah kan? Sekolah yang rajin ya, jangan kecewakan orang tuamu.”
“Siip deh!”
Beberapa bulan telah berlalu, tapi aku masih saja tidak bisa melupakan sosok Andra. Hingga suatu pagi.
“Met pagi Raha, tuh muka kok ditekuk aja? Kamu ingat sama Mas Andra yah? Sudahlah, peristiwa itu nggak usah kamu ingat – ingat lagi. Toh Mas Andra sudah anggap kamu adek khan?”
Aku hanya membalas ucapan Shinta dengan senyum kecut.
“Gini aja deh, supaya kamu semangat lagi gimana kalo nanti sore kamu ikut pengajian di sekolah. Ustadnya gaul lho, apalagi tema nanti sore tentang cinta. Pas banget kan sama keadaan kamu sekarang. Aku tunggu lho ya nanti sore,” tawar Shinta padaku, yang memang selama ini dia aktif di kegiatan rohis di sekolah.
“Ya deh aku ikut,” yah semoga saja hatiku lebih tenang dengan mengkuti pengajian nanti sore pikirku.
Sore hari aku berangkat ke sekolah untuk mengikuti pengajian yang katanya penceramahnya gaul. Ternyata benar, acara pengajian sore hari itu tidak membosankan sama sekali. Kemudian terlintas di dalam pikiranku untuk curhat tentang masalahku kepada ustad ini. Kebetulan juga dia memang menawarkan konseling bagi yang ingin curhat atau sebagainya.
Kemudian malam hari itu juga aku mencari alamat Ustad Iwan, begitulah dia memperkenalkan diri pada saat pengajian tadi sore.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam, mencari siapa ya dek?” jawab seorang wanita berjilbab yang cukup cantik, mungkin istri Ustad Iwan pikirku.
“Ustad Iwan ada?”
“Oh, ada. Sebentar saya panggilkan. Mari silakan duduk”
“Terima kasih”
“Ustad saya ingin menceritakan tentang kehidupan saya yang salah ini,” aku memulai percakapan setelah aku memperkenalkan diriku pada Ustad Iwan.
“Saya ini sebenarnya adalah seorang gay. Dan saya ingin berubah. Saya ingin kembali ke jalan yang diridhoi-Nya,” kemudian aku menceritakan semua perjalanan hidupku termasuk pertemuanku dengan Andra.
“Raha, rasa cinta itu fitrah. Setiap manusia pasti akan merasakannya, tapi tergantung kita dalam pengembangan cinta tersebut. Cinta kita pada seseorang atau hobi kita boleh – boleh saja. Tapi dalam hal ini cintamu pada sesama lelaki seperti seorang lelaki mencintai seorang wanita jelas salah. Karena hal itu jelas – jelas menyalahi kodrat yang telah digariskan oleh Allah.”
Aku mendengarkan semua ucapan Ustad Iwan dengan terdiam sambil merenungkan semua yang dikatakannya.
“Kamu tahu kan bahwa cinta itu tidak harus memiliki dan cinta tak bisa dipaksakan, apalagi cinta sesama jenis. Apakah kamu lupa bagaimana umat Nabi Luth dibinasakan? Sekarang kamu pulang dan mengadulah pada Allah, menangislah atas segala dosa – dosa yang selama ini kamu lakukan. Mohon petunjuk-Nya untuk membimbing hidupmu. Memohon ampunlah pada Allah, sebelum terlambat. Karena yang bernyawa pasti akan mati,”
Kata – kata Ustad Iwan memang benar, aku tidak pernah memikirkan hal itu. Padahal entah sekarang atau besok jika Allah menghendaki mengambil nyawaku ini aku tidak bisa apa – apa.
Dalam perjalanan pulang aku terngiang semua ucapan Ustad Iwan apalagi ketika dia mengatakan bahwa manusia di dunia ini hanya sebentar. Bergetar seluruh tubuhku, tanpa pikir panjang sesampai di rumah aku langsung membasuh tubuhku dengan air wudhu untuk menghadap kepada-Nya yang selama ini aku lupakan.
“Ya Allah, betapa besar dosaku selama ini. Cinta yang Kau berikan telah aku salah artikan. Begitu halusnya iblis membisikkan arti cinta itu, hingga kabut cinta duniawi telah menghalangi arti cinta sebenarnya. Ya Robb, andaikan cintaku padaMu sebesar cintaku padanya bahkan lebih besar dari itu. Sungguh aku menginginkan hal itu sebelum Engkau memanggilku, wahai Zat yang membolak – balikkan hati manusia. Ya Allah, jadikan cintaku padaMu begitu besar sehingga aku tak takut akan kematian bahkan kematian menjadikan gerbang menuju kemuliaan. Ampunilah segala dosaku Ya Allah,” tak terasa ait mataku membasahi pipi dan sajadah. Hatiku terasa sejuk dan tenang. Tanpa terasa keseimbangan tubuhku mulai tak stabil, aku tak tahan lagi dan akhirnya aku tersungkur dalam sujud.
“Door! Hayo, melamun ya. Siang – siang jangan melamun, nanti kesambet loh.” suara Shinta membuyarkan lamunanku.
“Maaf Dek, aku nggak bisa nerima kamu…” suasana seakan mati, hanya terdengar desah angin sepoi yang membelai rambutku.
“Door! Hayo, melamun ya. Siang – siang jangan melamun, nanti kesambet loh.” suara Shinta membuyarkan lamunanku.
“Raha ke kantin yuk, lapar nih. Kamu sih melamun terus kerjaannya dari tadi, kan lebih baik ke kantin, hehehehe.” kata Shinta sambil tertawa.
Shinta adalah sahabatku, mulai dari kelas 1 SMA hingga kini kelas 3 SMA kami selalu sekelas.
“Ayo deh!” jawabku singkat sambil berdiri dengan malas.
“Raha, kamu kok akhir – akhir ini jadi sering melamun sih. Ada apa? Lagi ada masalah ya. Cerita donk ke aku. Aku kan sahabat kamu,” kata Shinta sambil memakan bakso pesanannya.
“Nggak ada apa – apa kok,” kataku.
“Eh ayo cepet habiskan bakso kamu. Tuh Pak Aksa sudah masuk kelas.”
Semalam, lagi – lagi aku teringat kembali padanya dan juga peristiwa malam itu. Aku kembali teringat pada seorang pemuda yang membuat hidupku menjadi lebih berwarna daripada sebelumnya. Membuat pelangi terlihat lebih indah dan membuat kicau burung terdengar lebih merdu. Ya, aku adalah seorang gay. Aku menyadari perbedaan dalam diriku ini ketika aku menginjak masa puber.
Bukannya aku menyombongkan diriku, tetapi prestasiku sejak dulu selalu terbaik, dan lagi wajahku juga lebih dari pas – pasan. Tak heran semua cewek mengagumiku dan menjulukiku Sang Cowok impian. Namun aku tidak merespon semua perkataan teman cewekku, tetapi ketika seorang lelaki menjuluki aku cowok impian, entah kenapa darahku berdesir dibuatnya. Dan lagi ketika seorang lelaki tampan lewat di depanku, hatiku selalu berdetak kencang. Kecuali Shinta, tak ada yang tahu akan perbedaanku ini. Bahkan orang tuaku sekalipun. Shinta kuberitahu karena dia adalah sahabat terbaikku.
Pemuda yang membangunkan cintaku ini bernama Andra. Dia berumur 22 tahun, seorang pegawai swasta di kotaku. Aku diperkenalkan dengan Andra oleh temanku yang sama – sama gay. Andra merupakan orang yang baik, dia juga enak untuk diajak ngobrol. Dan juga mudah beradaptasi denga orang yang baru dikenalnya. Aku yang selama ini canggung ketika berbicara dengan orang asing, meskipun dia gay, sama sepertiku tetapi saat bertemu dengan Andra aku langsung merasa nyaman untuk mengobrol dengannya. Dan aku langsung jatuh hati kepadanya.
Pertemanan kami terus berlanjut. Entah mengapa ketika bersamanya aku seakan –akan menemukan kebahagiaan yang selama ini hilang dalam hidupku. Ketika senja tiba, kuingin cepat menggantikan rembulan dengan matahari jika kubisa. Hari demi hari dia tak luput dari pikiranku, walaupun dia sibuk dengan pekerjaannya tapi dia selalu menghubungiku meskipun hanya via sms dan itu sudah cukup mengobati rasa rinduku.
Hinga suatu malam aku menelponnya, “halo, Mas hari ini kamu ada acara nggak ? aku ke rumahmu ya.”
“Nggak kok Dek, kalo mau maen silakan aja. Kalo gitu kamu aku tunggu di rumah jam 7 yah, Ok!”
“Ok Mas!”
Jam 7 aku sudah berada di depan rumah Andra. Kulihat dia sedang duduk di teras rumah sambil membaca sebuah majalah.
“Hai Mas, sedang apa?”
”Baca majalah bisnis Dek, masuk yuk”
“Makasih Mas,” jawabku sambil masuk ke rumahnya yang lumayan besar.
“Gimana sekolah kamu Dek? Nggak ada masalah kan?” kata Andra membuka percakapan.
“Nggak kok mas, sekolah ya tetep disitu nggak pindah tuh.,” jawabku sambil tersenyum.
Kemudian kami bercerita panjang lebar tentang apapun, mulai masalah pekerjaannya sampai mengenai keluargaku dan keluarganya. Kemudian aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya yang selama ini selalu kupendam.
“Mmmm. Mas aku boleh ngomong sesuatu nggak? Tapi janji jangan marah ya!” rasa ragu menyelimuti hatiku, tapi daya dorong ini semakin kuat.
“Tergantung sih,” senyuman di bibirnya membuatku terpaku memandangnya.
“Bicara aja Dek, Mas nggak bakalan marah kok”
“Mas, mungkin lucu Aku bicara hal ini di saat yang seperti ini. Tapi aku sudah memendamnya lama dan aku sudah tidak kuat lagi untuk membendungnya,” kuberanikan diriku untuk memulainya.
“Mas, A... aku jatuh cinta sama seseorang.”
“Oh ya? Sama siapa Dek? Aku kenal nggak sama dia?” kata Andra dengan antusias.
“Di…dia adalah Mas sendiri. Aku suka sama mas Andra,” akhirnya keluar juga kata – kata itu.
“Mas, puisi ini adalah ungkapan perasaan cintaku padamu,” sambil kusodorkan sepucuk surat yang berisi puisi ungkapan perasaan cintaku kepadanya.
Perlahan dibukanya surat itu dan mulai membacanya.
Saat kupejamkan mata
Terbayang wajah indahmu
Saat kubuka mata ini
Terngiang namamu
Rasa inikah
Yang menampar jiwa Qais akan Laila
Mengoyak hati Romeo akan juliet
dan mencabik hati Yusuf akan Zulaikha
Rasa ini
Menyiksa batinku
Rasa ini menekan, mendesak
Menyesakkan jiwa
Ingin kuberteriak
Ingin kulari
‘tuk temuimu
Dan katakan
Kau lelaki terindah dalam hidupku
Tak peduliku tatapan tajam dunia
Tak peduliku pandangan liar mereka
Lama kami terdiam, tapi kemudian Andra mulai bicara.
“Dek aku mengerti perasaan kamu. Tapi aku sudah menganggap kamu sebagai adikku yang selama ini kucari. Jadi nggak mungkin aku menerima kamu sebagai pacarku. Aku nggak mau kehilanganmu Dek, sebab di dalam pacaran ketika rasa cinta itu pudar maka kebencianlah yang berperan dan aku nggak mau hal itu terjadi pada hubungan kita Dek. Jadi aku mohon, jadilah adikku bukan pacarku. Maafkan aku Dek, kamu bisa mengerti perasaanku kan?” penjelasan itu diakhiri dengan senyuman manisnya. Kuberanikan diri menatap wajahnya meskipun jeritan dan tangisan hati silih berganti.
“Ya sudah kalo itu memang keputusan Mas, aku akan coba untuk menerimanya. Aku akan coba untuk menjadi adik terbaik di dunia buat kamu mas,” kupaksakan bibir ini untuk tersenyum.
“Mas sudah malam nih, aku pulang dulu ya. Nanti mama nyariin aku lagi. Kan kasian beliau kalo anaknya yang paling cakep ini diculik orang,” aku berusaha menghibur diriku sendiri dengan bergurau dengannya.
“Ye, sok kegantengan deh,” ledeknya.
“Ya sudah, hati – hati ya. Besok kamu sekolah kan? Sekolah yang rajin ya, jangan kecewakan orang tuamu.”
“Siip deh!”
Beberapa bulan telah berlalu, tapi aku masih saja tidak bisa melupakan sosok Andra. Hingga suatu pagi.
“Met pagi Raha, tuh muka kok ditekuk aja? Kamu ingat sama Mas Andra yah? Sudahlah, peristiwa itu nggak usah kamu ingat – ingat lagi. Toh Mas Andra sudah anggap kamu adek khan?”
Aku hanya membalas ucapan Shinta dengan senyum kecut.
“Gini aja deh, supaya kamu semangat lagi gimana kalo nanti sore kamu ikut pengajian di sekolah. Ustadnya gaul lho, apalagi tema nanti sore tentang cinta. Pas banget kan sama keadaan kamu sekarang. Aku tunggu lho ya nanti sore,” tawar Shinta padaku, yang memang selama ini dia aktif di kegiatan rohis di sekolah.
“Ya deh aku ikut,” yah semoga saja hatiku lebih tenang dengan mengkuti pengajian nanti sore pikirku.
Sore hari aku berangkat ke sekolah untuk mengikuti pengajian yang katanya penceramahnya gaul. Ternyata benar, acara pengajian sore hari itu tidak membosankan sama sekali. Kemudian terlintas di dalam pikiranku untuk curhat tentang masalahku kepada ustad ini. Kebetulan juga dia memang menawarkan konseling bagi yang ingin curhat atau sebagainya.
Kemudian malam hari itu juga aku mencari alamat Ustad Iwan, begitulah dia memperkenalkan diri pada saat pengajian tadi sore.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam, mencari siapa ya dek?” jawab seorang wanita berjilbab yang cukup cantik, mungkin istri Ustad Iwan pikirku.
“Ustad Iwan ada?”
“Oh, ada. Sebentar saya panggilkan. Mari silakan duduk”
“Terima kasih”
“Ustad saya ingin menceritakan tentang kehidupan saya yang salah ini,” aku memulai percakapan setelah aku memperkenalkan diriku pada Ustad Iwan.
“Saya ini sebenarnya adalah seorang gay. Dan saya ingin berubah. Saya ingin kembali ke jalan yang diridhoi-Nya,” kemudian aku menceritakan semua perjalanan hidupku termasuk pertemuanku dengan Andra.
“Raha, rasa cinta itu fitrah. Setiap manusia pasti akan merasakannya, tapi tergantung kita dalam pengembangan cinta tersebut. Cinta kita pada seseorang atau hobi kita boleh – boleh saja. Tapi dalam hal ini cintamu pada sesama lelaki seperti seorang lelaki mencintai seorang wanita jelas salah. Karena hal itu jelas – jelas menyalahi kodrat yang telah digariskan oleh Allah.”
Aku mendengarkan semua ucapan Ustad Iwan dengan terdiam sambil merenungkan semua yang dikatakannya.
“Kamu tahu kan bahwa cinta itu tidak harus memiliki dan cinta tak bisa dipaksakan, apalagi cinta sesama jenis. Apakah kamu lupa bagaimana umat Nabi Luth dibinasakan? Sekarang kamu pulang dan mengadulah pada Allah, menangislah atas segala dosa – dosa yang selama ini kamu lakukan. Mohon petunjuk-Nya untuk membimbing hidupmu. Memohon ampunlah pada Allah, sebelum terlambat. Karena yang bernyawa pasti akan mati,”
Kata – kata Ustad Iwan memang benar, aku tidak pernah memikirkan hal itu. Padahal entah sekarang atau besok jika Allah menghendaki mengambil nyawaku ini aku tidak bisa apa – apa.
Dalam perjalanan pulang aku terngiang semua ucapan Ustad Iwan apalagi ketika dia mengatakan bahwa manusia di dunia ini hanya sebentar. Bergetar seluruh tubuhku, tanpa pikir panjang sesampai di rumah aku langsung membasuh tubuhku dengan air wudhu untuk menghadap kepada-Nya yang selama ini aku lupakan.
“Ya Allah, betapa besar dosaku selama ini. Cinta yang Kau berikan telah aku salah artikan. Begitu halusnya iblis membisikkan arti cinta itu, hingga kabut cinta duniawi telah menghalangi arti cinta sebenarnya. Ya Robb, andaikan cintaku padaMu sebesar cintaku padanya bahkan lebih besar dari itu. Sungguh aku menginginkan hal itu sebelum Engkau memanggilku, wahai Zat yang membolak – balikkan hati manusia. Ya Allah, jadikan cintaku padaMu begitu besar sehingga aku tak takut akan kematian bahkan kematian menjadikan gerbang menuju kemuliaan. Ampunilah segala dosaku Ya Allah,” tak terasa ait mataku membasahi pipi dan sajadah. Hatiku terasa sejuk dan tenang. Tanpa terasa keseimbangan tubuhku mulai tak stabil, aku tak tahan lagi dan akhirnya aku tersungkur dalam sujud.
Jumat, 21 September 2007
Pemrograman Shell
Temen2 TKJ kan dapet tugas bikin script di console linux. Ne q punya artikel tentang Shell Programming, semoga bermanfaat.
Apa itu shell ? shell adalah program (penterjemah perintah) yang menjembatani user dengan sistem operasi dalam hal ini kernel (inti sistem operasi), umumnya shell menyediakan prompt sebagai user interface, tempat dimana user mengetikkan perintah-perintah yang diinginkan baik berupa perintah internal shell (internal command), ataupun perintah eksekusi suatu file progam (eksternal command), selain itu shell memungkinkan user menyusun sekumpulan perintah pada sebuah atau beberapa file untuk dieksekusi sebagai program.
Contoh Shell Scripting
Masuk ke editor anda, apakah memakai vi,pico,emacs,dsb...
ketikkan perintah berikut
#!/bin/bash
echo "Hello, apa khabar"
simpan dengan nama file tes
ubah permission file tes menggunakan chmod
[fajar@linux$]chmod 755 tes
jalankan
[fajar@linux$]./tes
kapan saja anda mau mengeksekusinya tinggal memanggil file tes tersebut, jika diinginkan mengeset direktory kerja anda sehingga terdaftar pada search path ketikkan perintah berikut
PATH=$PATH:.
setelah itu script diatas dapat dijalankan dengan cara
[fajar@linux$]tes
Hello, apa khabar
tanda #! pada /bin/bash dalam script tes adalah perintah yang diterjemahkan ke kernel linux untuk mengeksekusi path yang disertakan dalam hal ini program bash pada direktory /bin, sebenarnya tanpa mengikutkan baris tersebut anda tetap dapat mengeksekusi script bash, dengan catatan bash adalah shell aktif. atau dengan mengetikkan bash pada prompt shell.
[fajar@linux$]bash tes
tentunya cara ini kurang efisien, menyertakan path program bash diawal script kemudian merubah permission file sehingga dapat anda execusi merupakan cara yang paling efisien.
Sekarang coba kita membuat script shell yang menampilkan informasi berikut:
Waktu system
Info tentang anda
jumlah pemakai yang sedang login di system
contoh scriptnya:
#!/bin/bash
#myinfo
#membersihkan tampilan layar
clear
#menampilkan informasi
echo -n "Waktu system :"; date
echo -n "Anda :"; whoami
echo -n "Banyak pemakai :"; who | wc -l
sebelum dijalankan jangan lupa untuk merubah permission file myinfo sehingga dapat dieksekusi oleh anda
[fajar@linux$]chmod 755 myinfo
[fajar@linux$]./myinfo
Waktu system : Sat Nov 25 22:57:15 BORT 2001
Anda : fajar
Banyak pemakai : 2
tentunya layout diatas akan disesuaikan dengan system yang anda gunakan statement echo dengan opsi -n akan membuat posisi kursor untuk tidak berpindah ke baris baru karena secara default statement echo akan mengakhiri proses pencetakan ke standar output dengan karakter baris baru (newline), anda boleh mencoba tanpa menggunakan opsi -n, dan lihat perbedaannya. opsi lain yang dapat digunakan adalah -e (enable), memungkinkan penggunaan backslash karakter atau karakter sekuen seperti pada bahasa C atau perl, misalkan :
echo -e "\abunyikan bell"
jika dijalankan akan mengeluarkan bunyi bell, informasi opsi pada statement echo dan backslash karakter selengkapnya dapat dilihat via man di prompt shell.
[fajar@linux$]man echo
(sumber: pemula.linux.or.id)
Apa itu shell ? shell adalah program (penterjemah perintah) yang menjembatani user dengan sistem operasi dalam hal ini kernel (inti sistem operasi), umumnya shell menyediakan prompt sebagai user interface, tempat dimana user mengetikkan perintah-perintah yang diinginkan baik berupa perintah internal shell (internal command), ataupun perintah eksekusi suatu file progam (eksternal command), selain itu shell memungkinkan user menyusun sekumpulan perintah pada sebuah atau beberapa file untuk dieksekusi sebagai program.
Contoh Shell Scripting
Masuk ke editor anda, apakah memakai vi,pico,emacs,dsb...
ketikkan perintah berikut
#!/bin/bash
echo "Hello, apa khabar"
simpan dengan nama file tes
ubah permission file tes menggunakan chmod
[fajar@linux$]chmod 755 tes
jalankan
[fajar@linux$]./tes
kapan saja anda mau mengeksekusinya tinggal memanggil file tes tersebut, jika diinginkan mengeset direktory kerja anda sehingga terdaftar pada search path ketikkan perintah berikut
PATH=$PATH:.
setelah itu script diatas dapat dijalankan dengan cara
[fajar@linux$]tes
Hello, apa khabar
tanda #! pada /bin/bash dalam script tes adalah perintah yang diterjemahkan ke kernel linux untuk mengeksekusi path yang disertakan dalam hal ini program bash pada direktory /bin, sebenarnya tanpa mengikutkan baris tersebut anda tetap dapat mengeksekusi script bash, dengan catatan bash adalah shell aktif. atau dengan mengetikkan bash pada prompt shell.
[fajar@linux$]bash tes
tentunya cara ini kurang efisien, menyertakan path program bash diawal script kemudian merubah permission file sehingga dapat anda execusi merupakan cara yang paling efisien.
Sekarang coba kita membuat script shell yang menampilkan informasi berikut:
Waktu system
Info tentang anda
jumlah pemakai yang sedang login di system
contoh scriptnya:
#!/bin/bash
#myinfo
#membersihkan tampilan layar
clear
#menampilkan informasi
echo -n "Waktu system :"; date
echo -n "Anda :"; whoami
echo -n "Banyak pemakai :"; who | wc -l
sebelum dijalankan jangan lupa untuk merubah permission file myinfo sehingga dapat dieksekusi oleh anda
[fajar@linux$]chmod 755 myinfo
[fajar@linux$]./myinfo
Waktu system : Sat Nov 25 22:57:15 BORT 2001
Anda : fajar
Banyak pemakai : 2
tentunya layout diatas akan disesuaikan dengan system yang anda gunakan statement echo dengan opsi -n akan membuat posisi kursor untuk tidak berpindah ke baris baru karena secara default statement echo akan mengakhiri proses pencetakan ke standar output dengan karakter baris baru (newline), anda boleh mencoba tanpa menggunakan opsi -n, dan lihat perbedaannya. opsi lain yang dapat digunakan adalah -e (enable), memungkinkan penggunaan backslash karakter atau karakter sekuen seperti pada bahasa C atau perl, misalkan :
echo -e "\abunyikan bell"
jika dijalankan akan mengeluarkan bunyi bell, informasi opsi pada statement echo dan backslash karakter selengkapnya dapat dilihat via man di prompt shell.
[fajar@linux$]man echo
(sumber: pemula.linux.or.id)
Untitled
Hmmm, bulan Ramadhan kali ini berbeda dengan bulan Ramadhan tahun-tahun sebelomnya. Q seakan kembali ke Ramadhan ketika q masih SMP kelas 1. Kenapa? Karena Ramadhan saat itu adalah ramadhan yang berkesan. Ramadhan itu telah mengubah q menjadi seorang yang berbeda.
Begitu juga dengan ramadhan tahun ini. Semua rasa yang ada benar-benar sama dengan ramadhan waktu itu. Rasa khawatir, rasa cemas, rasa senang, rasa harap semua sama. Karena q bertemu seseorang yang sangat Qharapkan. Yah meskipun orang yang berbeda, tapi semua rasa itu sama....
Begitu juga dengan ramadhan tahun ini. Semua rasa yang ada benar-benar sama dengan ramadhan waktu itu. Rasa khawatir, rasa cemas, rasa senang, rasa harap semua sama. Karena q bertemu seseorang yang sangat Qharapkan. Yah meskipun orang yang berbeda, tapi semua rasa itu sama....
Durma
Neh q postingin tembang durma yang bisa manggil kuntilanak. Tu lho tembang yang terkenal karena Julie Estelle yang nyanyiin :p
lingsir wengi
tumekeng sirna
aja tangi nggonmu guling
aku lagi bang wingga wingga
jim setan kang dakutusi
dadyo sebarang
aja lelayu sebet
Selamat menikmati, hehehe...........
lingsir wengi
tumekeng sirna
aja tangi nggonmu guling
aku lagi bang wingga wingga
jim setan kang dakutusi
dadyo sebarang
aja lelayu sebet
Selamat menikmati, hehehe...........
Kamis, 20 September 2007
Asisten Instruktur Pelatihan Jardiknas 2007
Langganan:
Komentar (Atom)

