“Maaf Dek, aku nggak bisa nerima kamu…” suasana seakan mati, hanya terdengar desah angin sepoi yang membelai rambutku.
“Door! Hayo, melamun ya. Siang – siang jangan melamun, nanti kesambet loh.” suara Shinta membuyarkan lamunanku.
“Maaf Dek, aku nggak bisa nerima kamu…” suasana seakan mati, hanya terdengar desah angin sepoi yang membelai rambutku.
“Door! Hayo, melamun ya. Siang – siang jangan melamun, nanti kesambet loh.” suara Shinta membuyarkan lamunanku.
“Raha ke kantin yuk, lapar nih. Kamu sih melamun terus kerjaannya dari tadi, kan lebih baik ke kantin, hehehehe.” kata Shinta sambil tertawa.
Shinta adalah sahabatku, mulai dari kelas 1 SMA hingga kini kelas 3 SMA kami selalu sekelas.
“Ayo deh!” jawabku singkat sambil berdiri dengan malas.
“Raha, kamu kok akhir – akhir ini jadi sering melamun sih. Ada apa? Lagi ada masalah ya. Cerita donk ke aku. Aku kan sahabat kamu,” kata Shinta sambil memakan bakso pesanannya.
“Nggak ada apa – apa kok,” kataku.
“Eh ayo cepet habiskan bakso kamu. Tuh Pak Aksa sudah masuk kelas.”
Semalam, lagi – lagi aku teringat kembali padanya dan juga peristiwa malam itu. Aku kembali teringat pada seorang pemuda yang membuat hidupku menjadi lebih berwarna daripada sebelumnya. Membuat pelangi terlihat lebih indah dan membuat kicau burung terdengar lebih merdu. Ya, aku adalah seorang gay. Aku menyadari perbedaan dalam diriku ini ketika aku menginjak masa puber.
Bukannya aku menyombongkan diriku, tetapi prestasiku sejak dulu selalu terbaik, dan lagi wajahku juga lebih dari pas – pasan. Tak heran semua cewek mengagumiku dan menjulukiku Sang Cowok impian. Namun aku tidak merespon semua perkataan teman cewekku, tetapi ketika seorang lelaki menjuluki aku cowok impian, entah kenapa darahku berdesir dibuatnya. Dan lagi ketika seorang lelaki tampan lewat di depanku, hatiku selalu berdetak kencang. Kecuali Shinta, tak ada yang tahu akan perbedaanku ini. Bahkan orang tuaku sekalipun. Shinta kuberitahu karena dia adalah sahabat terbaikku.
Pemuda yang membangunkan cintaku ini bernama Andra. Dia berumur 22 tahun, seorang pegawai swasta di kotaku. Aku diperkenalkan dengan Andra oleh temanku yang sama – sama gay. Andra merupakan orang yang baik, dia juga enak untuk diajak ngobrol. Dan juga mudah beradaptasi denga orang yang baru dikenalnya. Aku yang selama ini canggung ketika berbicara dengan orang asing, meskipun dia gay, sama sepertiku tetapi saat bertemu dengan Andra aku langsung merasa nyaman untuk mengobrol dengannya. Dan aku langsung jatuh hati kepadanya.
Pertemanan kami terus berlanjut. Entah mengapa ketika bersamanya aku seakan –akan menemukan kebahagiaan yang selama ini hilang dalam hidupku. Ketika senja tiba, kuingin cepat menggantikan rembulan dengan matahari jika kubisa. Hari demi hari dia tak luput dari pikiranku, walaupun dia sibuk dengan pekerjaannya tapi dia selalu menghubungiku meskipun hanya via sms dan itu sudah cukup mengobati rasa rinduku.
Hinga suatu malam aku menelponnya, “halo, Mas hari ini kamu ada acara nggak ? aku ke rumahmu ya.”
“Nggak kok Dek, kalo mau maen silakan aja. Kalo gitu kamu aku tunggu di rumah jam 7 yah, Ok!”
“Ok Mas!”
Jam 7 aku sudah berada di depan rumah Andra. Kulihat dia sedang duduk di teras rumah sambil membaca sebuah majalah.
“Hai Mas, sedang apa?”
”Baca majalah bisnis Dek, masuk yuk”
“Makasih Mas,” jawabku sambil masuk ke rumahnya yang lumayan besar.
“Gimana sekolah kamu Dek? Nggak ada masalah kan?” kata Andra membuka percakapan.
“Nggak kok mas, sekolah ya tetep disitu nggak pindah tuh.,” jawabku sambil tersenyum.
Kemudian kami bercerita panjang lebar tentang apapun, mulai masalah pekerjaannya sampai mengenai keluargaku dan keluarganya. Kemudian aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya yang selama ini selalu kupendam.
“Mmmm. Mas aku boleh ngomong sesuatu nggak? Tapi janji jangan marah ya!” rasa ragu menyelimuti hatiku, tapi daya dorong ini semakin kuat.
“Tergantung sih,” senyuman di bibirnya membuatku terpaku memandangnya.
“Bicara aja Dek, Mas nggak bakalan marah kok”
“Mas, mungkin lucu Aku bicara hal ini di saat yang seperti ini. Tapi aku sudah memendamnya lama dan aku sudah tidak kuat lagi untuk membendungnya,” kuberanikan diriku untuk memulainya.
“Mas, A... aku jatuh cinta sama seseorang.”
“Oh ya? Sama siapa Dek? Aku kenal nggak sama dia?” kata Andra dengan antusias.
“Di…dia adalah Mas sendiri. Aku suka sama mas Andra,” akhirnya keluar juga kata – kata itu.
“Mas, puisi ini adalah ungkapan perasaan cintaku padamu,” sambil kusodorkan sepucuk surat yang berisi puisi ungkapan perasaan cintaku kepadanya.
Perlahan dibukanya surat itu dan mulai membacanya.
Saat kupejamkan mata
Terbayang wajah indahmu
Saat kubuka mata ini
Terngiang namamu
Rasa inikah
Yang menampar jiwa Qais akan Laila
Mengoyak hati Romeo akan juliet
dan mencabik hati Yusuf akan Zulaikha
Rasa ini
Menyiksa batinku
Rasa ini menekan, mendesak
Menyesakkan jiwa
Ingin kuberteriak
Ingin kulari
‘tuk temuimu
Dan katakan
Kau lelaki terindah dalam hidupku
Tak peduliku tatapan tajam dunia
Tak peduliku pandangan liar mereka
Lama kami terdiam, tapi kemudian Andra mulai bicara.
“Dek aku mengerti perasaan kamu. Tapi aku sudah menganggap kamu sebagai adikku yang selama ini kucari. Jadi nggak mungkin aku menerima kamu sebagai pacarku. Aku nggak mau kehilanganmu Dek, sebab di dalam pacaran ketika rasa cinta itu pudar maka kebencianlah yang berperan dan aku nggak mau hal itu terjadi pada hubungan kita Dek. Jadi aku mohon, jadilah adikku bukan pacarku. Maafkan aku Dek, kamu bisa mengerti perasaanku kan?” penjelasan itu diakhiri dengan senyuman manisnya. Kuberanikan diri menatap wajahnya meskipun jeritan dan tangisan hati silih berganti.
“Ya sudah kalo itu memang keputusan Mas, aku akan coba untuk menerimanya. Aku akan coba untuk menjadi adik terbaik di dunia buat kamu mas,” kupaksakan bibir ini untuk tersenyum.
“Mas sudah malam nih, aku pulang dulu ya. Nanti mama nyariin aku lagi. Kan kasian beliau kalo anaknya yang paling cakep ini diculik orang,” aku berusaha menghibur diriku sendiri dengan bergurau dengannya.
“Ye, sok kegantengan deh,” ledeknya.
“Ya sudah, hati – hati ya. Besok kamu sekolah kan? Sekolah yang rajin ya, jangan kecewakan orang tuamu.”
“Siip deh!”
Beberapa bulan telah berlalu, tapi aku masih saja tidak bisa melupakan sosok Andra. Hingga suatu pagi.
“Met pagi Raha, tuh muka kok ditekuk aja? Kamu ingat sama Mas Andra yah? Sudahlah, peristiwa itu nggak usah kamu ingat – ingat lagi. Toh Mas Andra sudah anggap kamu adek khan?”
Aku hanya membalas ucapan Shinta dengan senyum kecut.
“Gini aja deh, supaya kamu semangat lagi gimana kalo nanti sore kamu ikut pengajian di sekolah. Ustadnya gaul lho, apalagi tema nanti sore tentang cinta. Pas banget kan sama keadaan kamu sekarang. Aku tunggu lho ya nanti sore,” tawar Shinta padaku, yang memang selama ini dia aktif di kegiatan rohis di sekolah.
“Ya deh aku ikut,” yah semoga saja hatiku lebih tenang dengan mengkuti pengajian nanti sore pikirku.
Sore hari aku berangkat ke sekolah untuk mengikuti pengajian yang katanya penceramahnya gaul. Ternyata benar, acara pengajian sore hari itu tidak membosankan sama sekali. Kemudian terlintas di dalam pikiranku untuk curhat tentang masalahku kepada ustad ini. Kebetulan juga dia memang menawarkan konseling bagi yang ingin curhat atau sebagainya.
Kemudian malam hari itu juga aku mencari alamat Ustad Iwan, begitulah dia memperkenalkan diri pada saat pengajian tadi sore.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam, mencari siapa ya dek?” jawab seorang wanita berjilbab yang cukup cantik, mungkin istri Ustad Iwan pikirku.
“Ustad Iwan ada?”
“Oh, ada. Sebentar saya panggilkan. Mari silakan duduk”
“Terima kasih”
“Ustad saya ingin menceritakan tentang kehidupan saya yang salah ini,” aku memulai percakapan setelah aku memperkenalkan diriku pada Ustad Iwan.
“Saya ini sebenarnya adalah seorang gay. Dan saya ingin berubah. Saya ingin kembali ke jalan yang diridhoi-Nya,” kemudian aku menceritakan semua perjalanan hidupku termasuk pertemuanku dengan Andra.
“Raha, rasa cinta itu fitrah. Setiap manusia pasti akan merasakannya, tapi tergantung kita dalam pengembangan cinta tersebut. Cinta kita pada seseorang atau hobi kita boleh – boleh saja. Tapi dalam hal ini cintamu pada sesama lelaki seperti seorang lelaki mencintai seorang wanita jelas salah. Karena hal itu jelas – jelas menyalahi kodrat yang telah digariskan oleh Allah.”
Aku mendengarkan semua ucapan Ustad Iwan dengan terdiam sambil merenungkan semua yang dikatakannya.
“Kamu tahu kan bahwa cinta itu tidak harus memiliki dan cinta tak bisa dipaksakan, apalagi cinta sesama jenis. Apakah kamu lupa bagaimana umat Nabi Luth dibinasakan? Sekarang kamu pulang dan mengadulah pada Allah, menangislah atas segala dosa – dosa yang selama ini kamu lakukan. Mohon petunjuk-Nya untuk membimbing hidupmu. Memohon ampunlah pada Allah, sebelum terlambat. Karena yang bernyawa pasti akan mati,”
Kata – kata Ustad Iwan memang benar, aku tidak pernah memikirkan hal itu. Padahal entah sekarang atau besok jika Allah menghendaki mengambil nyawaku ini aku tidak bisa apa – apa.
Dalam perjalanan pulang aku terngiang semua ucapan Ustad Iwan apalagi ketika dia mengatakan bahwa manusia di dunia ini hanya sebentar. Bergetar seluruh tubuhku, tanpa pikir panjang sesampai di rumah aku langsung membasuh tubuhku dengan air wudhu untuk menghadap kepada-Nya yang selama ini aku lupakan.
“Ya Allah, betapa besar dosaku selama ini. Cinta yang Kau berikan telah aku salah artikan. Begitu halusnya iblis membisikkan arti cinta itu, hingga kabut cinta duniawi telah menghalangi arti cinta sebenarnya. Ya Robb, andaikan cintaku padaMu sebesar cintaku padanya bahkan lebih besar dari itu. Sungguh aku menginginkan hal itu sebelum Engkau memanggilku, wahai Zat yang membolak – balikkan hati manusia. Ya Allah, jadikan cintaku padaMu begitu besar sehingga aku tak takut akan kematian bahkan kematian menjadikan gerbang menuju kemuliaan. Ampunilah segala dosaku Ya Allah,” tak terasa ait mataku membasahi pipi dan sajadah. Hatiku terasa sejuk dan tenang. Tanpa terasa keseimbangan tubuhku mulai tak stabil, aku tak tahan lagi dan akhirnya aku tersungkur dalam sujud.
Senin, 24 September 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar